Pengusaha VS Penebang Pohon


Suatu saat seorang pengusaha memanggil seorang penebang pohon untuk memanen pohon jati di lahannya.
Pengusaha: “dengan kapakmu, berapa banyak pohon yang bisa kamu tebang setiap harinya?”
Penebang : “biasanya aku bisa menebang sembilan pohon jati besar setiap harinya?”
Pengsaha : “ok. Slesaikan sekuat tenagamu maka akan kubayar yang sepantasnya buat kamu?”
Pengusahapun meninggalkan penebang. Besoknya si penebang mulai bekerja, dengan otot-ototnya yang kekar ia mulai mengayunkan kapaknya membelah serpihan batang pohon jati. Jam 12 siang ia sudah selesaikan 8 pohon. Terlihat dari kekuatan pria itu yang memang luar biasa, keringat menetesia tubuh di sepanjang hari. Akhirnya jam 5 sore ia selesaikan 15 pohon.
Keesokan hari, ia bekerja sama kerasnya dengan hari sebelumnya, . tapi ia selesaikan dengan merobohkan 10 pohon, hari ketiga ia kembali bekerja sama seperti biasanya, dan ia selesaikan 7 pohon. Hari keempat, melihat hasil pohon yang ia tumbangkan berkurang dari hari ke hari ia menambah keras usahanya, tapi tetap saja ia hanya menubangkan 5 pohon. Pada hari kelima, ia selesaikan 3 pohon.
Keesokan harinya Sang Pengusaha kembali ke gubug untuk melihat hasil dari Si Penebang.
Pengusaha : “baiklah sudah berapa pohon yang sudah kamu tebang?”
Penebang : “40 pohon.”
Pengusaha : “bagaimana bisa, kamu berkata satu hari kamu selesaikan sembilan pohon, sekarang sudah 5 hari dan kamu baru selesaikan 40 pohon?”
Penebang : “aku sendiri juga bingung, aku bekerja sama bahkan lebih keras dari hari kehari, tapi justru pahon yang aku tumbangkan semakin berkurang setiap harinya.”
Lalu Pengusaha itu berjalan ke belakang gubug untuk melihat hasil dari penebang, lalu ia kembai lagi.
Pengusaha : “kamu tidak tahu kenapa hasil tebanganmu berkurang setiap harinya?”
Penebang : “tidak, lalu apa menurutmu?”
Pengusaha : “lihat ini (menunjukan kapaknya), kamu lupa pertama kali kamu bekerja kapak ini setajam apa untuk menghujam pohon-pohon itu, semakin kamu gunakan tiap harinya semakin berkurang ketajamannya, dan kamu lupa untuk mengasahnya kembali. Jadi bukan karena kamu kurang bekerja keras untuk ini, tapi hanya terkadang kamu butuh berhenti sejenak untuk mengasah kapakmu supaya keringatmu tidak sia-sia.”
---aku hanya membayangkan cerita di atas terjadi padaku hanya saja, aku tahu harus mengasahnya. Tapi aku menggunakan tangan kananku untuk menebang dan tangan kiriku untuk mengasah, ku lakukan secara bersamaan siang dan malam---