Aku terpejam dalam keputus asaan, tenggelam hayat ini dalam belenggu ingatan yang menyeramkan. Entah mereka atau aku sendiri yang menciptakannya. Sadarilah aku hanya anak muda yang hanya ingin terbiasa lahir dan hidup di dunia. Tulisan yang hanya menenangkanku untuk sementara.
Lumpuh serasa langkahku terserap pasir yang terus menghisap kebahagiaan, keletihan ini membangunkan mimpiku yag sempat terkubur, terlintas kesia-siaan jika ingin berhenti dan membiarkan aku terus tenggelam.
Entah apa yang membatasi kekuatanku untuk berlari dan terdenyum, terasa berat sekali aku ingin bangun. Rasa nyaman dalam kehampaan ini terlalu mengikat, menjerat, dan memuaskan kepedihanku, menawarkan hidup yang tak dipermalukan dan dibicarakan.
Tak ada yang melihat, tak ada yang mendengar, tak ada yang mengerti dan tak ada yang peduli. Itu meyakinkanku bahwa kebenaran yang aku alami ini jalan yang pantas untuk aku nikmati.
Hujan deras ini seakan menelanjangiku di dalam kekelaman tanpa cahaya, aku tidak putus asa, hanya sedikit menikmati rasanya jatuh tersungkur dan tak ada yang peduli untuk mengangkatku, terinjak-injak dan mereka justru pura-pura tidak tahu. Kejutan yang aku nantikan tak kunjung datang.
Kegagalan ini mengendap sangat indah di dalam jiwa, terus mengendap tebal hingga menutupi hati, dan membuatnya berhenti menghela nafas impian yang sekian lama aku perjuangkan. Perjuangan . .?? aku sendiri bertanya, dapatkah itu terwujud dari perjuangan seorang pecundang dari dalam tanah, berbau busuk, dan bernoda hitam lebat.
Dahsyatnya cemoohan yang menghujam tak sanggup aku lawan, bukan menggerogoti keyakinanku hanya membuat aku sedikit kecewa dengan kemunafikan mereka yang tak ingin aku bersinar, 5 indera yang meresapnya, 5 indera yang mempercayainya . . . telinga mendengar apa yang tak terjawab, mata melihat apa yang tersembunyi, hidung mengendus aroma yang tak dipahami, mulut mengecap dusta yang terpercayai, tangan meraih yang tak terselami, keki melangkah di jalan yang tak terlewati. Telinga mendengar kebohongan yang terucapkan mulut, mulut mengucapkan kekejian yang dilakukan tangan, tangan melakukan keindahan hitam yang terlihat mata dan jejak palsu kaki menutupinya, kaki melangkah mengarah ke suara yang menawarkan kebahagiaan sementara yang terdengar telinga, aroma licik yang terendus meyakinkan kesempatan untuk melakukan tanpa memandang penderitaan orang lain. , otaknya merencanakan cara hitam apa yang membuatnya mudah dilakukan , . , bahkan terus haus akan kepuasan dirinya semata. . . terus memakan daging saudaranya sendiri tanpa peduli sekelilingnya, terus dia lahap dengan ganas, kulit sampai ke otot-otot dan ke sumsum tulang-tulangnya.
SEMPURNA . . .kebahagiaan yang mudah , , ,yang terlihat nyata , yang terbalut luka dan penderitaan transparan, yang tak terlihat tanpa nurani sejati. Semua Hitam . . Mata, Telinga, Mulut, Hidung, Tangan dan Kaki, bahkan Otak. Hanya hati yang tersisa, yang harusnya tak terkontaminasi, yang harusnya tak terinfeksi dan terlalu suci untuk dipengaruhi. Hanya Kehitaman sudah terlanjur menyebar kesuluruh darah, membiusnya hingga tak mampu menyadarkan semuanya . . .
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar
---Live your Heart---